Senin, 28 Februari 2011

Kesehatan Mental

                               Konsep Sehat


BEBERAPA DEFINISI SEHAT SAKIT
1.DEFINISI SEHAT SAKIT MENURUT DASAR KEPERAWATAN
- DEFINISI SEHAT (WHO) 1947
sehat : Suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemhan.
Mengandung 3 karakteristik :
1.Merefleksikan perhatian pada individu sebagai manusia.
2.Memandang sehat dalam konteks lingkungan internal dan ektersnal.
3.Sehat diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif.
Sehat bukan merupakan suatu kondisitetapai merupakan penyesesuaian, bukan merupakan suatu keadaan tapi merupakan ptoses.
Proses disini adalah adaptasi individu yang tidak hanya terhadap fisik mereka tetapai terhadap lingkungan sosialnya.
2.DEFINISI SEHAT SAKIT DALAM KEPERAWATAN
- DEFINISI SEHAT PENDER (1982)
Sehat : Perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain (Aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten sedangkan penyesesuaian diperlukan untuk mempertahankanstabilitas dan integritas struktural.
- DEFINISI SEHAT PAUNE (1983)
Sehat : Fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care Resouces) yang menjamin tindakanuntuk perawatan diri ( self care Aktions) secara adekual.
Self care Resoureces : encangkup pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Self care Aktions : Perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahan kan dan menigkatkanfungsi psicososial da piritual.
3. DEFINISI SEHAT MENURUT PERSEORANGAN
Pengertian sehat menurut perseorangan dan gambaran seseorang tentang sehat sangat bervariasi.
Faktor yang mempengaruhi diri seseorang tentang sakit :
1.Status Pekembangan.
Kemampuan mengerti tentang keadaan sehat dan kemampuan merespon terhadap perubahandalam kesehatan dikatakan dengan usia.
Contoh : Bayi dapat merasakan sakit, tetapi tidak dapat mengungkapkan dan mengatasi.
Pengetahuan perawat tentang status perkembangan individu memudahkan untuk melaksanakan pengkajian terhadap individu dan membantu mengatisipasi perilaku-perilku selanjutnya.
2.Pengaruh sosial dan kultural
Masing-masing kultur punya pandangan tentang sehat dan diturunhan dari orang tua keanak-anak.
Contoh : - Cina : sehat adalah keseimbangan antara Yin dan yang.
- Sosok (ekonomi rendah) flu suatu yang biasa, merasa sehat.
3. Pengalaman masa lalu.
Seseoran dapat mempertimbangkan adanya rasa nyeri / sakit disfungsi (tidak berfungsi) membantu menentukan definisi seorang tentang sehat.
4. Harapan sesorang tentang dirinya.
Seseorang mengharapkan dapat berfungsi pada tingkat yang tinggi baik fisik maupun psikososialnya jika mereka sehat.
Faktor lain yang berhubungan dengan diri sendiri.
1.Bagaimana individu menerima dirinya dengan baik / secara utuh.
2.Self Esleem (harga diri), Body Image (gambaran diri), kebutuhan, peran dan kemampuan.
4. DEFINISI SAKIT
yaitu defiasi / penyimpangan dari status sehat.
PEMONS (1972)
Sakit : gangguan dalam fungsi normal individu sebagai tatalitas termasuk keadaan organisme sebagai siste biologis dan penyesuaian sosialnya.
BAUMAN (1965)
Seseoang menggunakan3 kriteria untuk menentukan apakah mereka sakit :
1.Adanya gejala : Naiknya temperatur, nyeri.
2.Persepsi tentang bagaimana mereka merasakan : baik, buruk, sakit.
3.Kemampuan untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari : bekerja , sekolah.
Penyakit adalah istilah medis yang digambarkansebagai gangguan dalam fungsi tubuh yang menghasilkan berkuranya kapasitas.
Hubungan antara sehat, sakit dan penyakit pada dasarnya merupakan keadaan sehat dan sakit.
1.Hasil interaksi seseorang dengan lingkungan.
2.sebagai manifetasi keberhasilan / kegagalan dalam beradaptasi dengan lingkungan.
3.Gangguan Kesehatan.
Faktor-fktor yang mempengaruhi tingkah laku sehat.
Sehat sakit berada pada sesuatu dimana setiap orang bergerak sepanjang kehidupannya.
1.Suatu skala ukur secara relatif dalam mengukur ke dalam sehat / kesehatan seseorang.
2.kedudukannya : dinamis, dan bersifat individual.
3.Jarak dalam skala ukur : keadaan sehat secara optimal pada satu titik dan kemauan pada titik yang lain.




Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental



Setelah Perang Dunia II, perhatian masyarakat mengenai kesehatan jiwa semakin bertambah. Kesehatan mental bukan suatu hal yang baru bagi peradaban manusia. Pepatah Yunani tentang mens sana in confore sano merupakan satu indikasi bahwa masyarakat di zaman sebelum masehi pun sudah memperhatikan betapa pentingnya aspek kesehatan mental.
Yang tercatat dalam sejarah ilmu, khususnya di bidang kesehatan mental, kita dapat memahami bahwa gangguan mental itu telah terjadi sejak awal peradaban manusia dan sekaligus telah ada upaya-upaya mengatasinya sejalan dengan peradaban.
Untuk lebih lanjutnya, berikut dikemukakan secara singkat tentang sejarah perkembangan kesehatan mental.
Seperti juga psikologi yang mempelajari hidup kejiwaan manusia, dan memiliki usia sejak adanya manusia di dunia, maka masalah kesehatan jiwa itupun telah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu dalam bentuk pengetahuan yang sederhana.
Beratus-ratus tahun yang lalu orang menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah syaitan-syaitan, roh-roh jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara di bawah tanah atau dihukum dan diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat dan kuat. Namun, lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dalam  menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya ini.
Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah salah satu contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal dengan masa pra ilmiah karena hanya usaha dan praksis yang mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan.
Masa selanjutnya adalah masa ilmiah, dimana tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa.
Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para penderita penyakit mental dan orang-orang gila. Sangat banyak jasanya dalam memperluas dan memperbaiki kondisi dari 32 rumah sakit jiwa di seluruh negara Amerika bahkan sampai ke Eropa. Atas jasa-jasa besarnya inilah Dix dapat disebut sebagai tokoh besar pada abad ke-19.
Tokoh lain yang banyak pula memberikan jasanya pada ranah kesehatan mental adalah Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Beers pernah sakit mental dan dirawat selama dua tahun dalam beberapa rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri betapa kejam dan kerasnya perlakuan serta cara penyembuhan atau pengobatan dalam asylum-asylum tersebut. Sering ia didera dengan pukulan-pukulan dan jotosan-jotosan, dan menerima hinaan-hinaan yang menyakitkan hati dari perawat-perawat yang kejam. Dan banyak lagi perlakuan-perlakuan kejam yang tidak berperi kemanusiaan dialaminya dalam rumah sakit jiwa tersebut. Setelah dirawat selama dua tahun, beruntung Beers bisa sembuh.
Di dalam bukunya ”A Mind That Found Itself”, Beers tidak hanya melontarkan tuduhan-tuduhan terhadap tindakan-tindakan kejam dan tidak berperi kemanusiaan dalam asylum-asylum tadi, tapi juga menyarankan program-program perbaikan yang definitif pada cara pemeliharaan dan cara penyembuhannya. Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit mental itu dapat dicegah dan pada banyak peristiwa dapat disembuhkan pula. Oleh keyakinan ini ia kemudian menyusun satu program nasional, yang berisikan:
1.                  Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan para penderita mental.
2.                  Kampanye memberikan informasi-informasi agar orang mau bersikap lebih inteligen dan lebih human atau berperikemanusiaan terhadap para penderita penyakit emosi dan mental.
3.                  Memperbanyak riset untuk menyelidiki sebab-musabab timbulnya penyakit mental dan mengembangkan terapi penyembuhannya.
4.                  Memperbesar usaha-usaha edukatif dan penerangan guna mencegah timbulnya penyakit mental dan gangguan-gangguan emosi.
William James dan Adolf Meyer, para psikolog besar, sangat terkesan oleh uraian Beers tersebut. Maka akhirnya Adolf Meyer-lah yang menyarankan agar ”Mental Hygiene” dipopulerkan sebagai satu gerakan kemanusiaan yang baru. Dan pada tahun 1908 terbentuklah organisasi Connectitude Society for Mental Hygiene. Lalu pada tahun 1909 berdirilah The National Committee for Mental Hygiene, dimana Beers sendiri duduk di dalamnya hingga akhir hayatnya.



Teori Freud mengenai dapat diikhtisar dalam rangka struktur, dinamika dan perkembngan kepribadian.
1. Struktur Kepribadian
Menurut Freud kepribadian terdiri atas 3 sistem atau aspek, yaitu:
1. Das es (id), yaitu aspek biologis
2. Dan ich (ego), yaitu aspek psikologis
3. Das ueber ich (super eego), yaitu aspek sosiologis
Kendatipun ketiga aspek itu masing - masing mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja, dinamika sendiri sendiri, namun ketiganya beerhubungan dengan rapat sehingga sukar (tidak mungkin) untuk memisah - misahkan pengaruhnya terhadap tingkah laku manusia; tingkah laku selalu merupakan hasil dari ketiga aspek itu.
1. Das es
Das es atau dalam bahasa inggris the id disebut juga oleh Freud system der unbewussten. Aspek ini adalah aspek biologis dan merupakan sistem yang original di dalam kepribadian; dari aspek inilah kedua aspek yang lain tumbuh. Freud menyebutnya juga realitas psikis yang sebenar - benarnya (the true psychic reality), oleh karena itu das es merupakan dunia batin atau subjektif manusia, dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia objektif.
2. Das ich
Das ich atau dalam bahasa inggris the ego disebut juga system der bewussten-vorbewussten. Aspek ini adalah aspek psikologis dari kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (realitat). Perbedaan yang pokok antara das es dan das ich, yaitu kalau das es itu hanya mengenal dunia subjektif (dunia batin) maka das ich dapat membedakan sesuatu yang hanya didalam batin dan sesuatu yang ada didunia luar (dunia objektif, dunia realitas).
3. Das ueber ich
Das ueber ich adalah aspek sosiologi kepribadian, merupakan wakil dari nilai - nilai tradisional serta cita cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak anaknya, yang diajarkan dengan berbagai perintah dan larangan. Das ueber ich lebih merupakan kesempurnaan daripada kesenangan; karena itu das ueber ich dapat pula dianggap sebagai aspek moral kepribadian. Fungsinya yang pokok ialah menentukan apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak dan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat.
  1. Dinamika Kepribadian
Freud sangat terpengaruhi oleh filsafat determinisme dan positivisme abad XIX dan menganggap organisme manusia sebagai suatu kompleks sistem energi, yang meemperoleh energinya dari makanan serta mempergunakannya untuk bermacam - macam hal: sirkulasi, pernafasan, gerakan otot otot, mengamati, mengingat, berfikir, dan sebagainya. Sebagaimana ahli - ahli ilmu alam abad XIX yang mendefinisikan energi berdasarkan lapangn kerjanya, maka Freud menamakan energi dalam bidang psike ini energi psikis (psychic energy). Menurut hukum penyimpanan tenaga (concervation of energy) maka energi dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi tidak dapt hilang. Berdasar pada pemikiran itu Freud berpendapat, bahwa energi psikis dapat dipindahkan ke energi fisiologis dan sebaliknya. Jembatan antara energi tubuh dengan kepribadian ialah das es dengan instink – intinknya.
  1. Perkembangan Kepribadian
Freud umumnya dipandang sebagai ahlli yang pertama – tama mengutamakan aspek perkembangan (genetis) daripada kepribadian dan terutama yang menekankan peranan yang menentukan daripada tahun – tahun permulaan masa kanak – kanak dalam meletakan dasar – dasar struktur kepribadian. Freud berpendapat bahwa pada dasarnya kepribadian telah terbentuk pada akhir tahun kelima, dan perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya merupakan penghalusan terhadap struktur dasar itu. Kesimpulan yang demikian itu diambilnya atas dasar – dasar pengalamannya dalam melakukan psikoanalisis. Penyelidikan dalam hal ini selalu menjurus ke arah masa kanak – kanak, yaitu masa yang mempunyai peran menentukan dalam hal timbulnya neurosis pada tahun – tahun yang lebih kemudian. Freud beranggapan bahwa kanak – kanak adalah ayahnya manusia (The Child Is the Father of Man). Dalam menyelidiki masa kanak – kanak ini Freud tidak langsung menyelidiki kanak – kanak, akan tetapi membuat rekonstruksi atas dasar ingatan orang dewasa mengenai masa kanak – kanaknya.
Pandangan Erikson Terhadap Teori Kepribadian
Erikson adalah seorang Freudian dan penulis utama dari psikologi ego. Artinya Erikson pada dasarnya menerima gagasan Freud termasuk gagasan yang belum pasti seperti oedipal complex, dan juga menerima gagasan tentang ego yang didukung oleh para pendukung setia Freudian seperti Heinz Haertmann dan tantu saja Anna Freud. Teori Erikson lebih banyak dipengaruhi oleh antropologi dan berorientasi pada budaya.
Erikson memandang identitas ego sebagai polaritas dari apa seseorang itu menurut perasaan dirinya sendiri dan apa seseorang itu menurut anggapan orang lain. Seseorang yang mencapai identitas memperoleh rasa memiliki. Erikson juga memandang jika masa lampau seseorang memiliki makna bagi masa depannya, maka akan terdapat kesinambungan perkembangan yang direfleksikan oleh tahap-tahap perkembangan, masing-masing tahap perkembangan berhubungan dengan tahap-tahap perkembangan yang lainnya
Ego Kreatif
Erikson memandang ego sebagai kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri secara kreatif dan otonom. Erikson menjelaskan bahwa ego itu mempunyai kreativitas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tidak hanya ditentukan oleh faktor internal yang berasal dari dalam diri individu, tetapi juga ditentukan oleh factor sosial dan budaya tempat individu itu berada.
Erikson menggambarkan adanya sejumlah kualitas yang dimiliki ego, yang tidak ada pada psikoanalisis Freud, yakni kepercayaan dan penghargan, otonomi dan kemauan, kerajinan dan kompetensi, identitas dan kesetiaan, keakraban dan cinta, generativitas dan pemeliharaan, serta integritas. Ego semacam itu disebut juga ego-kreatif, ego yang dapat menemukan pemecahan kreatif atas masalah pada setiap tahap kehidupan. Apabila menemui hambatan atau konflik, ego tidak menyerah tapi bereaksi dengan menggunakan kombinasi antara kesiapan batin dan kesempatan yang disediakan oleh lingkungan. Ego bukan budak tetapi justru menjadi pengatur id, superego, dan dunia luar. Jadi, ego di samping hasil proses faktor-faktor genetik, fisiologik, dan anatomis, juga dibentuk oleh konteks kultural dan historis.
Teori ego Erikson yang dapat dipandang sebagai pengembangan dari teori perkembangan seksual-infantil dari Freud, mendapat pengakuan yang luas sebagai teori yang khas, berkat pandangannya bahwa perkembangan kepribadian mengikuti prinsip epigenetic. Bagi organisme, untuk mencapai perkembangan penuh dari struktur biologis potensialnya, lingkungan harus memberi stimulasi yang khusus. Menurut Erikson, fungsi psikoseksual dari Freud yang bersifat biologis juga bersifat epigenesist, artinya psikoseksual untuk berkembang membutuhkan stimulasi khusus dari lingkungan,dalam hal ini yang terpenting adalah lingkungan sosial.
Sama seperti Freud, Erikson menganggap hubungan ibu anak menjadi bagian penting dari perkembangan kepribadian. Tetapi Erikson tidak membatasi teori hubungan id-ego dalam bentuk usaha memuaskan kebutuhan id oleh ego. Menurutnya, situasi memberi makan merupakan model interaksi sosial antara bayi dengan dunia luar. Lapar jelas manifestasi biologis, tetapi konsekuensi dari pemuasan id (oleh ibu) itu akan menimbulkan kesan bagi bayi tentang dunia luar. Dari pengalaman makannya, bayi belajar untuk mengantisipasi interaksinya dalam bentuk kepercayaan dasar (basic trust), yakni mereka memandang kontak mata dengan manusia sangat menyenangkan karena pada masa lalu hubungan semacam itu menimbulkan rasa aman dan menyenangkan. Sebaliknya, tanpa basic trust, bayi akan mengantisipasi interaksi interpersonalnya menimbulkan frustasi dan rasa sakit.
Ciri khas psikologi ego dari Erikson dapat diiringkan sebagai berikut.
1. Erikson menekankan kesadaran individu untuk menyesuaikan diri dengan pengaruh sosial. Pusat perhatian psikologi ego adalah kematangan ego yang sehat, alih-alih konflik salah satu suai yang neurotik.
2. Erikson berusaha mengembangkan teori insting dari Freud dengan menambahkan konsep epigenetic kepribadian.
3. Erikson secara eksplisit mengemukakan bahwa motif mungkin berasal dari impuls id yang tak sadar, namum motif itu bisa membebaskan diri dari id, membangun system kerja sendiri yang terlepas dari sistem kerja id.
4. Erikson menganggap ego sebagai sumber kesadaran diri seseorang. Selama menyesuaikan diri dengan realitas, ego mengembangkan perasaan berkelanjutan diri dengan masa lalu dari masa yang akan datang.

Sejarah Kesehatan Mental

Posted in Artikel on 11 February 2011 by loverboy
Setelah Perang Dunia II, perhatian masyarakat mengenai kesehatan jiwa semakin bertambah. Kesehatan mental bukan suatu hal yang baru bagi peradaban manusia. Pepatah Yunani tentang mens sana in confore sano merupakan satu indikasi bahwa masyarakat di zaman sebelum masehi pun sudah memperhatikan betapa pentingnya aspek kesehatan mental.
Yang tercatat dalam sejarah ilmu, khususnya di bidang kesehatan mental, kita dapat memahami bahwa gangguan mental itu telah terjadi sejak awal peradaban manusia dan sekaligus telah ada upaya-upaya mengatasinya sejalan dengan peradaban. Untuk lebih lanjutnya, berikut dikemukakan secara singkat tentang sejarah perkembangan kesehatan mental.
Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
Seperti juga psikologi yang mempelajari hidup kejiwaan manusia, dan memiliki usia sejak adanya manusia di dunia, maka masalah kesehatan jiwa itupun telah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu dalam bentuk pengetahuan yang sederhana.
Beratus-ratus tahun yang lalu orang menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah syaitan-syaitan, roh-roh jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara di bawah tanah atau dihukum dan diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat dan kuat. Namun, lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dalam menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya ini. Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah salah satu contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal dengan masa pra ilmiah karena hanya usaha dan praksis yang mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan.[1]
Masa selanjutnya adalah masa ilmiah, dimana tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa.
Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para penderita penyakit mental dan orang-orang gila. Sangat banyak jasanya dalam memperluas dan memperbaiki kondisi dari 32 rumah sakit jiwa di seluruh negara Amerika bahkan sampai ke Eropa. Atas jasa-jasa besarnya inilah Dix dapat disebut sebagai tokoh besar pada abad ke-19.
Tokoh lain yang banyak pula memberikan jasanya pada ranah kesehatan mental adalah Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Beers pernah sakit mental dan dirawat selama dua tahun dalam beberapa rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri betapa kejam dan kerasnya perlakuan serta cara penyembuhan atau pengobatan dalam asylum-asylum tersebut. Sering ia didera dengan pukulan-pukulan dan jotosan-jotosan, dan menerima hinaan-hinaan yang menyakitkan hati dari perawat-perawat yang kejam. Dan banyak lagi perlakuan-perlakuan kejam yang tidak berperi kemanusiaan dialaminya dalam rumah sakit jiwa tersebut. Setelah dirawat selama dua tahun, beruntung Beers bisa sembuh.
Di dalam bukunya ”A Mind That Found Itself”, Beers tidak hanya melontarkan tuduhan-tuduhan terhadap tindakan-tindakan kejam dan tidak berperi kemanusiaan dalam asylum-asylum tadi, tapi juga menyarankan program-program perbaikan yang definitif pada cara pemeliharaan dan cara penyembuhannya. Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit mental itu dapat dicegah dan pada banyak peristiwa dapat disembuhkan pula. Oleh keyakinan ini ia kemudian menyusun satu program nasional, yang berisikan:
1. Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan para penderita mental.
2. Kampanye memberikan informasi-informasi agar orang mau bersikap lebih inteligen dan lebih human atau berperikemanusiaan terhadap para penderita penyakit emosi dan mental.
3. Memperbanyak riset untuk menyelidiki sebab-musabab timbulnya penyakit mental dan mengembangkan terapi penyembuhannya.
4. Memperbesar usaha-usaha edukatif dan penerangan guna mencegah timbulnya penyakit mental dan gangguan-gangguan emosi.
William James dan Adolf Meyer, para psikolog besar, sangat terkesan oleh uraian Beers tersebut. Maka akhirnya Adolf Meyer-lah yang menyarankan agar ”Mental Hygiene” dipopulerkan sebagai satu gerakan kemanusiaan yang baru. Dan pada tahun 1908 terbentuklah organisasi Connectitude Society for Mental Hygiene. Lalu pada tahun 1909 berdirilah The National Committee for Mental Hygiene, dimana Beers sendiri duduk di dalamnya hingga akhir hayatnya.
sumber:
[1] Dr. Kartini Kartono, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, Bandung: CV. Mandar Maju, 1989,
[2] Dr. Kartini Kartono, Hygiene Mental…
[3] Hasan Langgulung, Teori-Teori Kesehatan Mental, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1986, hal. 50-76.
[4] Moeljono Notosoedirdjo, Kesehatan Mental; Konsep dan Penerapan, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2002, hal. 14.

Konsep Sehat

Posted in Artikel on 11 February 2011 by loverboy
Semua orang pasti pernah mendengar kata “sehat, biasanya sehat berhubungan dengan fisik yang bugar, olahraga, dsb. Sedangkan sehat menurut saya adalah keadaan dimana baik tubuh maupun jiwa berada dalam kondisi yang baik, stabil dan bebas dari penyakit. Menurut saya sehat fisik itu, bebas rokok, narkoba dan minuman keras, dari badan yang sehat juga bisa lahir pikiran dan ide - ide positif. Banyak cara untuk memiliki badan yang sehat, antara lain pola makan yang tepat dan olahraga teratur. Last but not least, sesekali kita perlu melakukan refreshing untuk mengurangi tingkat stres, karena stres juga dapat mempengaruhi kesehatan kita. So refreshing can be a good solution to achieve a healthy mind.

Sigmund Freud’s Bio

Posted in Artikel on 13 January 2011 by loverboy
Sigmund Freud was born May 6, 1856, in a small town — Freiberg — in Moravia. His father was a wool merchant with a keen mind and a good sense of humor. His mother was a lively woman, her husband’s second wife and 20 years younger. She was 21 years old when she gave birth to her first son, her darling, Sigmund. Sigmund had two older half-brothers and six younger siblings. When he was four or five — he wasn’t sure — the family moved to Vienna, where he lived most of his life.
A brilliant child, always at the head of his class, he went to medical school, one of the few viable options for a bright Jewish boy in Vienna those days. There, he became involved in research under the direction of a physiology professor named Ernst Brücke. Brücke believed in what was then a popular, if radical, notion, which we now call reductionism: “No other forces than the common physical-chemical ones are active within the organism.” Freud would spend many years trying to “reduce” personality to neurology, a cause he later gave up on.
Freud was very good at his research, concentrating on neurophysiology, even inventing a special cell-staining technique. But only a limited number of positions were available, and there were others ahead of him. Brücke helped him to get a grant to study, first with the great psychiatrist Charcot in Paris, then with his rival Bernheim in Nancy. Both these gentlemen were investigating the use of hypnosis with hysterics.
After spending a short time as a resident in neurology and director of a children’s ward in Berlin, he came back to Vienna, married his fiancée of many years Martha Bernays, and set up a practice in neuropsychiatry, with the help of Joseph Breuer.
Freud’s books and lectures brought him both fame and ostracism from the mainstream of the medical community. He drew around him a number of very bright sympathizers who became the core of the psychoanalytic movement. Unfortunately, Freud had a penchant for rejecting people who did not totally agree with him. Some separated from him on friendly terms; others did not, and went on to found competing schools of thought.
Freud emigrated to England just before World War II when Vienna became an increasing dangerous place for Jews, especially ones as famous as Freud. Not long afterward, he died of the cancer of the mouth and jaw that he had suffered from for the last 20 years of his life.

Rabu, 24 November 2010

IKLAN

IKLAN
Periklanan adalah komunikasi komersil dan nonpersonal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu masyarakat luas target melalui media bersifat massal seperti televisi, radio, koran, majalah, direct mail(pengeposan langsung), reklame luar ruang atau kendaraan umum (Lee & Johnson, 2004).
Berkaitan dengan iklan ada beberapa teori yang patut dicatat sebagai pegangan dengan teori tersebut kita dapat menjadikannya dasar pijakan melihat konsep-konsep iklan.
A. Teori-teori periklanan
1. Efek Minimal
Ada korelasi positip antara peningkatan biaya pemasangan iklan dengan banyaknya produk yang terjual dalam satuan waktu tertentu.
Kalau biaya pemasangan iklan makin besar akan makin banyak pula penjualannya terhadap produk yang diiklankan, demikian juga bilasebaliknya kalau biaya pemasangan iklan semakin kecil maka semakin kecil juga volume penjualan atas barang-barangatau jasa tersebut.
Micheal Scudson mengemukakan teorinya yang membantah anggapan menurutnya ini, Menurutnya yang terjadi malah sebaliknya, ada korelasi negatif antara biaya pemasangan iklan dengan volume penjualan produksi.
Artinya semakin besar biayapemasangan iklan akan mempengaruhi makin kecilnya volume penjualan dan sebaliknya semakin kecil biaya yang dikeluarkan untuk memasang iklan mengakibatkan semakin besar volme penjualan.
Teori ini kemudian dia sebut dengan “Teori Efek Minimal”.
2. Teori Cutting Edge. ( Efek Samping)
Teori ini mengajarkan bahwa iklan secara tidak disadari dapat mengubah bentuk prilaku yang menyimpang darisuatu budaya umum dan membentuk sub budaya kelompok tertentu. Dikatakan teori “efek samping”, hal ini karena efek yang semula direncanakan untuk masyarakat luas sasaran tertentu tidaktercapai malah mencapai efek pada masyarakat luas yang tidak direncanakan. Akibatnya sasaran baru itu terpengaruh dan membentuk suatu sub budaya kelompok baru.
3. Teori A-T-R ( Awareness, Trial, Reinforcement)
Teori ini mengajarkan bahwa masyarakat luas itu dapat dipengaruhi oleh iklan, hasilnya kita akan menemukan sekelompok orang yang relatif tetap memakai atau membeliproduk-produk hasil iklan tersebut.
Untuk mendapatkan orang yang menggunakan produk atau jasa secara tetap harus dilakukan tehnikpenyampaian pesan yang disebut A-T-R (awareness, trial, reinforcement). Upaya pertama, menggugah kesadaran masyarakat luas, bahwa produk yang diinginkan itu ada disekeliling mereka. Harapan kedua ialah setelah menggugah kesadaran, setiap iklan harus kuat mempengaruhi dari segi perilaku mereka.
4. Teori Selective Influence
Teori ini mejelaskan bagaimana khalayak merespon pesan-pesan iklan dari media massa dapat diterangkan melalui teori selective influence yang terdiri dari empat prinsip :
a) Selective attention (memilih memperhatikan pesan tertentu)
Pertama, perbedaan individu dalam merespon pesan-pesan iklan terjadi hanya karena perbedaan dalam struktur kognitif yang mereka miliki. Cara pandang, berpikir, berpengetahuan, kepercayaan setiap orang terhadap sesuatu yang baru, termasuk pesan-pesan iklan tidaklah sama. Kedua, karena keanggotaan seseorang dalam masyarakat dalam berbagai kelompok sosial maupun kemasyarakatan maka ada dugaan memilih perhatian terhadap pesan tertentupun akan dipengaruhi oleh kelompoknya. Ketiga, bahwa orang lebih berminat jika suatu pesan iklan dapat membangun citra hubungannya dengan pihak lain. Pesan iklan membuat orang harus memperhatikannya karena pesan itu mengakibatkan orang itu aktif berhubungan dengan anggota keluarganya, maupun dengan kenalannya.
b) Selective Perception
Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pesan iklan adalah pilihan terhadap suatu pesan yang didasarkan pada persepsitertentu. Karena adanya perbedaan dalam faktor-faktor kognitif, seperti minat dan kepercayaan, pengetahuan, sikap, kebutuhan, serta nilai-nilai, maka individu secara selektif pula akan mempersepsi pesan iklan yang disampaikan. Jadi terdapat perbedaan peneriamaan pesan yang dipersepsi oleh penerima karena terdapat perbedaan kognisi tersebut.
c) Selective Recall
Dalam selective recall ini bahwa seseorang cenderung memilih kembali hanya pesan-pesan yang diingat saja. Jadi prinsip ini meskipun parallel dengan seleksi pada perhatian, namun setiap orang memilih pesan iklan yang paling berkesan saja baginya.
d) Selective Action
Dalam teori Selective actiondalam periklanan mungkin mengarahkan seseorang ataupun khalayak untuk memutuskan jenis produk apa yang akan dipilihnya setelah melalui proses pertimbangan, seperti keuntungan dan kerugian dari semua produk yang sama atau suatu iklan menawarkan hadiah tertentu.
5. Teori Lingkungan Informasi Pembeli
Teori ini memberi penjelasan bahwa setiap orang dapat memutuskan untuk membeli sesuatu ataupun memakai suatu produk tidak hanya berdasarkan iklan yang individu lihat saja. Dalam kenyataanya terdapat berbagai sumber informasi non-iklan yang mungkin saja berdampak lebih luas dan positif dalam menentukan pengambila keputusan terhadap produk,seperti diantaranya :
a) Pengalaman pribadi pembeli
b) Komunikasi antar pribadi dalam jaringan keluarga
c) Berita media massa yang lain
d) Kredibilitas konsumen
e) Perusahaan saingannya.
f) Kredibilitas media yang digunakan dalam masyarakat
g) Lingkungan informasi yang beragan tentang produk
h) Kegiatan personal selling, promotion, salesman dan sejenisnya
i) Informasi persaingan harga yang diperoleh dari media non masa.
6. Teori S-O-R
Bahwa suatu tingkah laku sosial dapat dimengerti melalui suatu analisa dari stimuli yang diberikan dan dapat mempengaruhi reaksi yang spesifik dan didukung oleh hukuman maupun penghargaan sesuai dengan reaksi yang terjadi. Teori S-O-R menitik beratkan pada penyebab sikap yang dapat mengubahnya dan tergantung pada kualitas rangsangan yang berkomunikasi dengan organisme. Menurut Hovland, proses dari perubahan sikap adalah serupa dengan suatu proses belajar, dimana terdapat tiga variabel penting yang dapat menunjang proses belajar tersebut, yakni :
a) Perhatian
b) Pengertian
c) Penerimaan.
B. Proses, Tujuan serta syarat Periklanan
Periklanan merupakan suatu proses terdiri dari 4 macam kegiatan, yakni:
1. Persiapan (preparation)àmencari informasi ttg sasaran, atau produk lawan
2. perencanaan (planning)àmembuat produk sampai rencana pemasangan di media
3. pelaksanaan (executionàmemilih media setelah diriset
4. pengawasan (control)àkontrol media, riset masyarakat luas dan produk di pasaran
Periklanan menurut Courtland Bovee & William F Arens, memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Menciptakan pengenalan merk/produk/perusahaan
2. Memposisikan, agar terbedakan dari pesaing. Memposisikan produk (posisioning) adalah melekatkan imegebarang/perusahaan kepada masyarakat luas, Menurut David A. aacker, ada beberapa cara untuk melakukan strategi posisioning:
a. Menonjolkan karakteristik produk
b. Menonojolkan harga dan mutu
c. Menonjolkan kegunaannya
d. Menonjolkan siapa penggunanya
e. Menonjolkan unsure-unsur budaya
3. Mendorong prospek untuk mencoba
4. Mendukung terjadinya penjualan
5. Membina loyalitas. Iklan menyampaikan informasi bahwa produk yang dipakai konsumen masih ada di pasaran
6. Mengumumkan cara baru pemanfaatan
7. Meningkatkan citra merk/perusahaan
Oleh karena itu perlu diperhatikan yang berkaitan dengan hal-hal berikut ini:
· Produk
Menonjolkan produk (bisa dilihat dari manfaat, kemasan, komposisi, dll)
· Harga
Menginformasikan harga dengan persuasive (iming-iming discount, dll)
· Distribusi
Menginformasikan ketersediaan, pasokan, layanan
· Promosi
Lakukan berbagai macam bentuk promosi, agar dapat menarik hati konsumen.
Menurut Djayakusumah dalam pemasaran iklan yang bagus harus memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:
· Attention : mengandung daya tarik
· Interest : mengandung perhatian dan minat
· Desire : memunculkan keinginan untuk mencoba atau memiliki
· Conviction : menimbulkan keyakinan terhadap produk
· Decision : menghasilkan kepuasan terhadap produk
· Action : mengarah tindakan untuk membeli
Strategi iklan harus mampu menjawab pertanyaan dasar dari rancangan sebuah sebuah kampanye periklanan yang dirumuskan dalam 5W + 1H (Suhandang, 2005) yaitu :
· What : apa tujuan iklan ?
· Who : siapa khalayak yang akan dijangkau ?
· When : kapan iklan dipasang ?
· Where : di mana iklan dipasang ?
· Why : mengapa harus demikian ?
· How : bagaimana bentuk iklannya ?
Dalam membuat iklan, kita harus memperhatikan beberapa hal seperti diatas, agar dalam memasarkan sesuatu kepada masyarakat mempunyai tujuan yang jelas sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan.

SUMBER :
Suhandang, Kustadi (2005). Periklanan : Manajemen, Kiat dan Strategi., Nuansa, Bandung.

Jumat, 29 Oktober 2010

Tugas Psikologi Kelompok

Anggota :
1. Ali Zaenal                (10506012)
2. Danang Kunto Aji    (10506050)
3. Erdanu                     (10506252)
4. Inna Kristianti           (10506112)
5. Muammar Randy      (10506153)

Konflik Kelompok
Definisi Konflik :
Menurut Wood, Walace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, dan Osborn (1998:580) yang dimaksud dengan konflik (dalam ruang lingkup organisasi) adalah: Conflict is a situation which two or more people disagree over issues of organisational substance and/or experience some emotional antagonism with one another, yang kurang lebih memiliki arti bahwa konflik adalah suatu situasi dimana dua atau banyak orang saling tidak setuju terhadap suatu permasalahan yang menyangkut kepentingan organisasi atau dengan timbulnya perasaan permusuhan satu dengan yang lainnya.
Dalam penelitian jurnal pertama yang berjudul Konflik Kinerja Tim Virtual Global adalah keadaan di mana konflik mempengaruhi kinerja tim dalam meningkatkan globalisasi dan kemajuan teknologi komunikasi yang munculnya tim virtual global (GVT). GVT dilakukan dengan menggunakan wawancara, observasi, komunikasi log, dan dokumen. Selain itu, Besar volume komunikasi elektronik seperti anggota GVT biasanya datang dari berbagai benua atau negara, berinteraksi melalui berbagai bentuk teknologi komunikasi, dan jarang atau tidak pernah melihat satu sama lain secara pribadi. Adanya hubungan antara konflik tugas dan kinerja tim mungkin bergantung dalam kompleksitivitas tugas dan pendekatan resolusi konflik. Pentingnya pengelolaan konflik di virtual mencapai hasil tim yang efektif telah ditekankan. Dengan demikian, GVT bisa mendapatkan keuntungan dari lebih baik pemahaman factor yang memicu konflik serta memungkinkan dampak konflik dalam tim kinerja (Menurut Wijono, 1993, 38-41 akibat penyelesaian konflik).
Dalam penelitian jurnal kedua yang berjudul Resolusi Konflik Dalam Pengambilan Keputusan Tim Studi Longitudial adalah penelitian dokumen proses kelompok dan kinerja perubahan tugas. Pengambilan keputusan / resolusi konflik termasuk studi longitudinal yang relatif sedikit maka perlu mengkaji penggunaan kompromi (strategi resolusi konflik yang menghasilkan kinerja sub-optimal pada tugas. Konflik ini siapa yang benar dan siapa yang salah bisa salah untuk hubungan konflik ketika kelompok-kelompok yang baru dan kepercayaan rendah (Simons & Peterson, 1998). Pada awal kehidupan kelompok ada kekhawatiran yang cukup besar untuk membangun reputasi satu menciptakan hubungan dengan orang lain. konflik interpersonal kemungkinan akan menghambat pembangunan hubungan interpersonal yang positif. Bersikeras bahwa jawaban benar, hanya untuk menemukan jawabannya salah, sering merusak reputasi anggota dalam kelompok. Kurang berisiko untuk meninggalkan masalah yang jawabannya benar terpecahkan dan berpendapat lebih dari cara untuk membagi jawaban. Ini mungkin karena butuh waktu untuk kelompok-kelompok untuk membangun kohesi kepercayaan, dan mengembangkan efektif strategi untuk penyelesaian konflik. Walaupun ada bukti yang cukup untuk bagaimana menggabungkan masing-masing kelompok jawaban untuk membentuk grup jawaban nol sejarah ad hoc kelompok (misalnya, Davis, 1973; Laughlin,1988) mekanisme bisa berubah ketika kelompok diperiksa longitudinal.
Dalam penelitian jurnal ketiga yang berjudul Pengaruh Diskriminasi Agama on-Agama Protes Etno dan Pemberontakan bahwa mengenai konflik etno-religius ada dua aliran pemikiran yang berpendapat bahwa studi agama dan konflik adalah "epiphenomenal," atau tidak relevan. Modernisasi / sekolah sekularisasi berpendapat bahwa proses modernisasi ekonomi dan politik yang menyebabkan kematian faktor primordial seperti etnis dan agama. Mereka yang menentang ini tubuh teori berpendapat bahwa agama dan etnis tidak pernah berhenti menjadi faktor penting, mengutip banyak contoh konflik etnis dan agama saat ini sebagai bukti. Mereka lebih berpendapat bahwa proses modernisasi telah benar-benar meningkatkan tingkat konflik etnis dan agama dan bahwa Perang Dingin telah dihapus hambatan sistemik di atasnya. Sekolah fungsionalisme dari berpendapat berpikir bahwa hubungan dirasakan antara agama dan konflik adalah ilusi, bukan sosial dasar mempengaruhi yang memaksa masyarakat. Sebaliknya agama, agama bertindak sebagai depan untuk yang lain, lebih kekuatan. sosial dasar itu sendiri Sedangkan mereka yang menentang fungsionalisme tidak menyangkal hal ini, mereka berpendapat bahwa bahkan setelah mengendalikan kekuatan-kekuatan sosial lainnya, agama masih memiliki pengaruh independen. Minoritas dalam masyarakat demokratis jauh lebih mungkin untuk terlibat dalam protes bukan pemberontak Hal ini didasarkan pada dua faktor: pertama, kehadiran dan kekuatan politik pembatasan terhadap kebebasan berekspresi, pergerakan bebas, tempat tinggal, hak dalam proses peradilan, organisasi politik, pembatasan suara, rekrutmen ke polisi atau militer, akses ke layanan sipil dan pencapaian jabatan tinggi agama. Menurut Wijono ( 1993 : 37) Ciri-ciri Konflik.
Dalam penelitian jurnal keempat yang berjudul Konflik Perempuan Pengelola Utama Hutan Kemasyarakatan bahwa perempuan belum banyak terlibat dalam proses pengambilan keputusan berkaitan dengan pengelolaan hutan. Hutan kemasyarakatan itu sendiri adalah hutan negara yang pemanfaatan utamanya untuk memberdayakan masyarakat. Menurutnya perempuan dan laki-laki karena keduanya terlibat dalam pemanfaatan hutan. Perempuan tidak banyak terlibat sehingga perempuan kurang terakomodasi dan kurang efektif karena kurangnya kapasitas kepemimpinan dan kemampuan mengorganisasi diri di samping hambatan-hambatan budaya. Di sisi lain, perempuan juga menjadi pihak yang paling banyak menjadi korban konflik, misalnya dalam pengusiran Hal ini sangat disayangkan mengingat sebenarnya perempuanlah yang menempati porsi terbesar dalam proses pemanfaatan hutan, “Perempuan yang pergi ke ladang setiap hari, sementara laki-laki hanya terlibat pada proses awal saja untuk membersihkan ladang.”.











DAFTAR PUSTAKA
Wirawan, Sarlito. 1997. Psikologi Sosial : Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Universita Indonesia: Jakarta
Departemen Pertanian. 1986. Penyuluhan Pertanian, Kedudukan dan Perannya. Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian, Jakarta.
http://www.jurnalperempuan.com/index.php/jpo/comments/perempuan_pengelola_utama_hutan_kema http://bahankuliah.blogsome.com/2010/06/24/manajemen-konflik-definisi-ciri-sumber-dampak-dan-strategi-mengatasi-konflik/syarakatan/
Amason, AC 1996. Membedakan dampak konflik fungsional dan disfungsional di pengambilan keputusan strategis: Menyelesaikan sebuah paradoks untuk tim manajemen puncak. Academy of Akademi Management Journal, 39(1), 123-148. Management Journal, 39 (1), 123-148
Fox Jonathan, 2000. Pengaruh Diskriminasi Agama on-Agama Protes Etno dan Pemberontakan. The Journal Of Conflict Studies. Israel

Jumat, 15 Oktober 2010

Teknik pemasaran dari satu produk tertentu dalam peluncuran yang memperhatikan kebutuhan pasar.

Banyak faktor yang mempengaruhi konsumen dalam membeli barang atau jasa. Teori yang mempelajari tentang berbagai faktor yang mempengaruhi konsumen dalam membeli barang atau jasa disebut sebagai model perilaku konsumen (Sudarmiatin, 2009). Terdapat banyak model perilaku konsumen, salah satunya adalah model perilaku konsumen dari Assael (Sudarmiatin, 2009). Menurut Assael, terdapat tiga faktor yang mempengaruhi konsumen dalam membuat suatu keputusan pembelian, yaitu konsumen individu, lingkungan, dan penerapan strategi pemasaran.
Faktor pertama, yaitu konsumen individual yang artinya bahwa pilihan untuk membeli barang/jasa dipengaruhi oleh hal-hal yang ada pada diri konsumen seperti kebutuhan, persepsi, sikap, kondisi geografis, gaya hidup dan karakteristik kepribadian individu. Pendidikan dan penghasilan konsumen juga turut mendapat andil dalam pembuatan keputusan konsumen untuk membeli barang/jasa pada faktor yang pertama ini. Pendidikan secara langsung berkaitan dengan kemampuan membeli karena terdapat korelasi yang kuat antara pendidikan dan pendapatan. (Muryani, Hartini, & Tedjakusuma, 2001).
Contoh dari faktor pertama ini misalnya, Mumun pergi ke salon “poles sana-poles sini” untuk memotong rambutnya karena sudah terlalu panjang. Ia tidak menyukai rambut panjang karena baginya rambut panjang memiliki biaya perawatan yang lebih banyak. Sementara itu, dikarenakan Mumun bekerja sebagai seorang wartawan dan reporter dan tinggal di daerah tropis, rambut yang panjang akan sangat merepotkannya. Dalam contoh tersebut digambarkan bahwa Mumun pergi ke salon dengan alasan kebutuhan. Mumun juga memiliki pandangan atau sikap bahwa rambut panjang memiliki biaya perawatan yang mahal. Hal tersebut dikarenakan profesi Mumun sebagai wartawan dan reporter menuntutnya untuk hampir selalu bekerja diluar ruangan yang penuh dengan polusi. Itu menandakan bahwa Mumun harus sering-sering merawat rambutnya untuk menunjang penampilannya ketika ia melaporkan siaran langsung. Mumun tidak mungkin tampil di depan kamera dengan rambut yang berantakan dan tidak terawat, karena hal tersebut tidak akan enak untuk dilihat oleh para pemirsanya.
Untuk masalah persepsi, bagaimana persepsinya terhadap barang/jasa tersebut? Positifkah? Atau negatifkah? Bila seseorang memiliki persepsi yang positif dengan barang/jasa, ia tentu akan kembali mengkonsumsinya. Menurut Hawkins (dalam Sudarmiatin, 2009) persepsi adalah model proses informasi yang berguna yang mempunyai empat langkah yaitu exposure, perhatian, interpretasi, dan ingatan. Persepsi berkaitan dengan memori. Bila seseorang merasa puas dengan produk yang dikonsumsinya, hal itu bukan hanya menguntungkan dirinya sendiri, tetapi kepuasan ini juga akan berdampak positip bagi produsen. Konsumen yang puas akan membeli dan mengkonsumsi lagi produk yang pernah dibelinya. Bagi produsen tindakan konsumen tersebut akan menaikkan omzet penjualan dan perusahaan tentu akan meningkatkan jumlah produksinya untuk meraih keuntungan yang lebih besar.
Faktor kedua, yaitu lingkungan artinya bahwa pilihan konsumen terhadap barang/jasa dipengaruhi oleh lingkungan yang mengitarinya. Ketika konsumen membeli barang/jasa mereka didasari oleh banyak pertimbangan misalnya karena meniru temannya, karena tetangganya telah membeli lebih dulu, dan sebagainya. Dengan demikian, interaksi sosial yang dilakukan oleh seseorang akan turut mempengaruhi pilihan produk yang akan dibeli.
Faktor ketiga, yaitu penerapan strategi pemasaran yang merupakan stimuli pemasaran yang dikendalikan oleh pemasar/pelaku bisnis. Dalam hal ini pemasar berusaha mempengaruhi konsumen dengan menggunakan stimuli pemasaran seperti iklan, dan sejenisnya agar konsumen bersedia memilih produk yang ditawarkan. Strategi pemasaran yang lazim dikembangkan oleh pemasar biasanya berhubungan dengan produk yang ditawarkan, harga jual produknya, strategi pemasaran yang dilakukan dan dan bagaimana pemasar melakukan distribusi produk kepada konsumen. Pemasar perlu memahami mengapa dan bagaimana konsumen mengambil keputusan membeli, sehingga pemasar dapat merancang strategi pemasaran dengan lebih baik. Pemasar yang mengerti perilaku konsumen akan mampu memperkirakan bagaimana kecenderungan konsumen untuk bereaksi terhadap informasi yang diterimanya. Dengan demikian pemasar yang memahami perilaku konsumen akan mampu mempengaruhi konsumen dalam memilih produk dan merk yang akan dibeli.
Dalam jurnal yang ditulis oleh Muryani, Hartini, dan Tedjakusuma (2001), perilaku konsumen dalam pembelian air minun mineral dipengaruhi secara bersama-sama dan bermakna oleh faktor pendidikan dan penghasilan (faktor pertama), harga, kualitas, layanan dan promosi (faktor ketiga).Sedangkan menurut Hawkins (Sudarmiatin, 2009), faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli yaitu faktor internal, dan faktor eksternal. Faktor internal ini dapat dirinci lagi dalam persepsi, belajar, motivasi, sikap, emosi, ingatan, dan personality. Faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku pembelian konsumen terdiri dari kebudayaan, demographics, kelas sosial, subkultur, keluarga, referensi kelompok, aktivitas marketing, pelayanan, fasilitas, dan promosi.


Sumber:
• Muryani., Hartini, S., & Tedjakusuma, R. (2001). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian air minum mineral di kotamadya Surabaya. Jurnal Penelitian Dinamika Sosial, 2, 48-58.
• Sudarmiatin. (2009). Model perilaku konsumen dalam perspektif teori dan empiris pada jasa pariwisata. Jurnal Ekonomi Bisnis, 1, 1-11.